Jika anda dialihkan ke situs adf.ly maka tunggu 5 detik kemudian klik Lewati / skip ad untuk melanjutkan membaca isi makalah pada blog ini.

Tuesday, March 25, 2014

makalah sejarah pemikiran ekonomi konvensional

Links to this post
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar belakang masalah
            Pemikiran-pemikiran ekonomi yang berkembang saat ini telah mengalami suatu proses yang panjang. Perkembangannya berlangsung berabad-abad seiring dengan munculnya peradaban-peradaban yang ada di dunia. Bahkan pemikiran tersebut mulai tampak sejak zaman batu, perunggu, dan besi. Kemudian semakin berkembang sejak ditemukannya tulisan pada peradaban India kuno, Mesir kuno, dan Babylonia. Sedangkan barat lebih cendrung pada peradaban Yunani kuno yang kaya akan peninggalan dari kaum intelektualnya.
            Salah satu corak perkembangan pemikiran ekonomi pada masa lampau adalah kegiatan bisnisnya yang menggunakan sistem bunga. Para pakar sejarah pemikiran ekonomi menyimpulkan bahwa kagiatan bisnis dengan sistem bunga telah ada sejak tahun 2500 sebelum masehi, baik di Yunani kuno, Romawi kuno, dan Mesir kuno.
            Sementara itu, marak dan berkembangnya ekonomi Islam pada tiga dasawarsa belakangan ini, telah mendorong dan mengarahkan perhatian para ilmuan modern kepada pemikiran ekonomi Islam klasik. Dikarenakan hasil pemikirian tentang ekonomi Islam oleh para ekonomi Islam klasik tersebut merupakan pionir-pionir penting yang sukses melakukan transformasi sistem ekonomi Islam ke dalam dunia modern.
            Di antara sekian banyak pemikir masa lampau yang mengkaji ekonomi Islam, Ibnu Khaldun merupakan salah satu ilmuwan yang paling menonjol. Ibnu Khaldun adalah raksasa intelektual paling terkemuka di dunia. Ia bukan saja bapak sosiologi tetapi juga bapak ilmu Ekonomi, karena banyak teori ekonominya yang jauh mendahului Adam Smith dan Ricardo. Artinya, Ia lebih dari tiga Abad mendahului para pemikir Barat modern tersebut.
2. Rumusan masalah
            Untuk lebih terarahnya pembahasan makalah ini, maka penyusun membuat rumusan masalah sebagai berikut :
            1. Bagaimanakah sejarah pemikiran ekonomi pra klasik ?
            2. Bagaiamna pula sejarah pemikiran ekonomi kaum klasik ?
            3. Siapa saja dan bagaimana konsep dari tokoh – tokoh ekonomi klasik ?
            4. Bgaiamana sejarah pemikiran ekonomi kaum sosialis ?

BAB II
PEMBAHASAN

1. Sejarah pemikiran ekonomi  pra klasik
a. Zaman yunani kuno
            Konsep-konsep ekonomi dari kaum perintis ditemukan terutama dalam ajaran-ajaran agama, kaidah-kaidah hukum, etika atau aturan-aturan moral. Contoh ajarannya mengingatkan bahwa cinta uang adalah akar dari segala permasalahan atau misalnya contoh lain dalam kitab Hammurabi dari Babilonia tahun 1700 SM, masyarakat Yunani telah menjelaskan tentang rincian petunjuk-petunjuk tentang cara-cara berekonomi. Ada 3 tokoh utama pada zaman Yunani Kuno yaitu :
1. Plato (427-347  SM)
            Plato yang hidup di zaman keemasan kebudayaan Athena, mencerminkan pola berpikir tradisi kaum ningrat. Ia memandang rendah para pekerja kasar dan orang yang mengejar kekayaan, termasuk lewat perdagangan. Sebaliknya ia sangat menghargai para prajurit, negarawan dan orang yang bekerja di sektor pertanian.
            Gagasan Plato tentang ekonomi timbul secara tidak sengaja dari pemikirannya tentang keadilan dalam sebuah negara ideal. Menurut Plato, dalam sebuah negara ideal kemajuan tergantung pada pembagian kerja yang timbul secara alamiah dalam masyarakat. Karena manusia diciptakan berbeda, meraka juga memiliki sifat dan kecenderungan yang berbeda, dan akhirnya jenis pekerjaan yang diminati juga berbeda. Plato menyadari bahwa produksi merupakan basis suatu negara dan penganekaragaman (diversivikasi) pekerjaan dalam masyarakat merupakan keharusan, karena tidak seorang pun yang dapat memenuhi sendiri berbagai kebutuhannya. Oleh karena itu, Plato membedakan tiga jenis pekerjaan yang dilakukan oleh manusia yaitu :
a). Rakyat jelata, pekerja, Mereka dasar ekonomi masyarakat.                                           
b). Penjaga dan pembangun urusan Negara yang tidak mempunyai kepentingan sendiri, dan tidak boleh memiliki keluarga.
c). Penjabat tinggi Negara dan filosof, tugas mereka membuat dan mengawasi UU, pejabat ini harus memperdalam filosof dan ilmu pengetahuan.
            Tiga golongan yang ada dalam polis ini adalah cerminan dari tiga bagian jiwa manusia.  Masing-masing mempunyai keutamaan yang identik supaya dapat mencapai tujuannya, hidup yang baik, negara yang baik. Karena keadilan adalah keutamaan umum moral manusia, maka keadilan adalah karakter dari

READ MORE.....

makalah manajemen resiko

Links to this post
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Benarkah kebanyakan orang ingin mengelakan risiko ? Karena selalu ingin aman dan hidup tentram, maka memang kebanyakan orang takut menanggung resiko. Namun semua tahap kehidupan kita mengandung resiko. Kemanapun kita mengelak atau lari dari resiko, makaa disitupun kita akan menemukan risiko yang lainnya. Resiko merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan. Bahkan ada orang yang mengatakan , bahwa tak ada hidup tanpa resiko sebagaimana tak ada hidup tanpa maut. Jadi dengan demikian setiap hari kita menghadapi resiko, baik sebagai perorangan, maupun sebagai perusahaan. Orang berusaha melindungi diri tehadap resiko, demikian pula badan usaha pun harus berusaha melindungi diri terhadap resiko.
Agar resiko tidak menghalangi kegiatan perusahaan, maka seharusnyalah itu dimanajemeni dengan sebaik-baiknya. Namun benarkah para pengusaha Indonesia kurang memperhatikan manajemenn resiko?Program Manajemen Resiko pertama-tama bertugas mengidentifikasikaan resiko-resiko yang dihadapi, sesudah itu mengukur atau menentukan besarnya resiko itu dan kemudian barulah dapat dicarikan jalan untuk menghadapi ataau menangani resiko itu. Ini berarti orang harus menyusun strategi untuk memperkecil ataupun mengendalikannya. 
Pendeknya dengan progran itu, dapatlah dilindungi keefektifan operasi perusahaan yang bersangkutan. Jadi pernyataan yang harus dicari jawabannya oleh manajer resiko antara lain adalah : Resiko apa saja yang dihadapi perusahaannya. Bagaimana dampak resiko itu terhadap kehidupan bisnis perusahaannya. Resiko mana yang harus dihadapi sendiri, mana yang harus dipindahkan kepada asuransi. Metode mana yang cocok dan efisien untuk menghadapinya.
B.     Rumusan Masalah
Didalam makalah ini akan dibahas meliputi :
1.      Pengertian resiko dan manajemen resiko
2.      Macam-macam resiko
3.      Upaya penanggulangan resiko
4.      Konsep resiko
5.      Manfaat manajemen resiko
6.      Langkah-langkah manajemen resiko
7.      Sumbangan manajemen resiko
C.    Manfaat Penulisan
Manfaat dari penulisan makalah ini yaitu selain sebagai tugas mata kuliah pengantar ilmu manajemen, penulis berharap dengan makalah ini dapat menambah wawasan bagi pemakalah khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya.






BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian resiko dan manajemen resiko
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Resiko adalah kemungkinan terjadinya peristiwa yang dapat merugikan perusahaan.
Vaugan (1978),  mengemukakan beberapa definisi resiko sebagaimana dapat kita lihat sebagai berikut :
1.      Risk is the chance of loss ( Resiko adalah kerugian )
Chance of loss berhubungan dengan suatu exposure (keterbukaan) terhadap kemungkinan kerugian. Dalam ilmu statistik, chance dipergunakan untuk menunjukkan tingkat probabilitas akan munculnya situasi tertentu. Sebagian penulis menolak definisi ini karena terdapat perbedaan antara tingkat risiko dengan tingkat kerugian. Dalam halchance of loss 100%, berarti kerugian adalah pasti sehingga risiko tidak ada.
2.      Risk is the possibility of loss ( Resiko adalah kemungkinan kerugian )
Istilah possibility berarti bahwa probabilitas sesuatu peristiwa berada diantara nol dan satu. Namun, definisi ini kurang cocok dipakai dalam analisis secara kuantitatif.
3.      Risk is uncertainty ( Resiko adalah ketidakpastian )
Uncertainty dapat bersifat subjective dan objective. Subjective uncertainty merupakan penilaian individu terhadap situasi risiko yang didasarkan pada pengetahuan dan sikap individu yang bersangkutan.
4.      Risk is the dispersion of actual from expected result ( Resiko merupakan penyebaran hasil aktual dari hasil yang diharapkan)
Sedangkan Manajemen risiko adalah suatu sistem pengawasan risiko dan perlindungan harta benda, hak milik dan keuntungan badan usaha atau perorangan atas kemungkinan timbulnya kerugian karena adanya suatu risiko.
Manajemen risiko adalah suatu pendekatan terstruktur/metodologi dalam mengelola ketidakpastian yang berkaitan dengan ancaman; suatu rangkaian aktivitas manusia termasuk: Penilaianrisiko, pengembangan strategi untuk mengelolanya dan mitigasi risiko dengan menggunakan pemberdayaan/pengelolaan sumberdaya. Strategi yang dapat diambil antara lain adalah memindahkan risiko kepada pihak lain, menghindari risiko, mengurangi efek negatif risiko, dan menampung sebagian atau semua konsekuensi risiko tertentu. Manajemen risiko
Baca Selengkapnya.....

pemikiran, tradisi dan praktek ekonomi pada masa daulah islam (umayyah, abbasiyah, utsmaniyyah)

Links to this post
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Kontribusi kaum Muslimin yang sangat besar terhadap kelangsungan dan perkembangan pemikiran ekonomi pada khususnya dan peradaban dunia pada umumnya, telah diabaikan oleh para ilmuwan Barat. Buku-buku teks ekonomi Barat hampir tidak pernah menyebutkan peranan kaum Muslimin ini. Sebaliknya,meskipun telah memberikan kontribusi yang besar, kaum Muslimin tidak lupa mengakui utang mereka kepada para ilmuwan Yunani, Persia, India, dan Cina. Hal ini sekaligus mengindikasikan inklusivitas para cendekiawan Muslim masa lalu terhadap berbagai ide pemikiran dunia luar selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Perkembangan ekonomi Islam saat ini secara terus menerus mengalami kemajuan yang sangat pesat, baik di panggung internasional maupun di Indonesia. Perkembangan tersebut meliputi kajian akademis di Perguruan Tinggi maupun secara praktik operasioanl seperti yang terjadi di lembaga- lembaga perekonomian Islam seperti Perbankan Syariah, Asuransi Syariah, Pasar Modal Syariah,  Perkembangan tersebut diharapkan semakin melebar meliputi aspek dan cakupan yang sangat luas, seperti kebijakan ekonomi negara, ekonomi pemerintah daerah,  ekonomi makro (kebijakan fiskal, public finance, strategi mengatasi kemiskinan serta pengangguran, inflasi, kebijakan moneter), dan permasalahan ekonomi lainnya, seperti  upah dan perburuhan dan sebagainya.
B.     Rumusan Masalah
Didalam makalah ini akan dibahas meliputi :
1.      Pemikiran ekonomi pada masa daulah islam
2.      Tradisi dan praktek ekonomi pada masa daulah islam
C.    Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini yaitu selain sebagai salah satu tugas mata kuliah Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, penulis berharap dengan makalah ini dapat menambah wawasan kita mengenai sejarah pemikiran ekonomi islam khususnya tentang Tradisi dan Praktek Ekonomi Pada Masa Daulah Islam (Umayyah, Abbasiyah, Utsmaniyah).

BAB II
PEMBAHASAN

A.    PEMIKIRAN  EKONOMI PADA MASA DAULAH ISLAM (UMAYYAH, ABBASIYAH, UTSMANIYAH)
1.      Bani Umayyah
Pada masa pemerintahan Bani Umayyah, kebijakan ekonomi banyak dibentuk berdasarkan ijtihad para fuqoha dan ulama sebagai konsekuensi semakin jauhnya rentang waktu (lebih kurang satu abad) antara zaman kehidupan Rasulullah saw dan masa pemerintahan tersebut.[1]
Berbagai catatan penting tentang pemerintahaan Bani Umayyah adalah dapat dijelaskan seb

READ MORE......

Sunday, March 16, 2014

Makalah Tradisi dan praktek ekonomi pada masa daulah islam (Umayah, Abbasiyah, Utsmaniyah)

Links to this post


BAB II
PEMBAHASAN


1.      PEMIKIRAN  EKONOMI PADA MASA DAULAH ISLAM (UMAYYAH, ABBASIYAH, USTMAN)

A.    UMAYYAH
Pada masa pemerintahan Bani Umayyah, kebijakan ekonomi banyak dibentuk berdasarkan ijtihad para fuqoha dan ulama sebagai konsekuensi semakin jauhnya rentang waktu (lebih kurang satu abad) antara zaman kehidupan Rasulullah saw dan masa pemerintahan tersebut[1].
1.      Berbagai catatan penting tentang pemerintahaan Bani Umayyah adalah dapat dijelaskan sebagai berikut:
Muawiyah adalah seorang sahabat yang mulia walaupun dia melakukan sebuah ijtihad politik dalam melakukan perlawanan kepada Khalifah Ali bin Abi Thalib dan ternyata ijtihad yang dia lakukan tidak benar. Namun demikian, dia tetap berlaku adil dan semua sahabat adalah adil. Marwan bin Hakam salah seorang khalifah (ke-4) termasuk yang banyak meriwayatkan hadist. Khalifah Abdul Malik (khalifah ke-5) dikenal sebagai orang yang berilmu luas dan seorang ahli fiqh, beliau termasuk ke dalam ulama Madinah sebelum diangkat sebagai khalifah. Umar bin Abdul Aziz (khalifah ke-8) adalah seorang Imam dalam masa ijtihad dan dianggap sebagai khalifaur al Rasyidun ke-5.

2.   Penaklukan beberapa kota dan negeri hingga sampai ke wilayah Cina di sebelah timur, negeri-negeri di Andalusia (Spanyol) dan selatan Perancis di sebelah barat sehingga pada masanya wilayah pemerintahan Islam mencapai wilayah yang sangat luas sepanjang sejarah Islam dan banyaknya manusia yang memeluk agama Islam.

B.     ABBASIYAH
Sejak zaman Abbasiyah, walaupun masih di lakukan secaran perorangan. Perbankan mulai berkembang pesat ketika beredar banyak jenis mata uang pada zaman itu sehingga perlu keahlian khusus untuk membedakan antara satu mata uang dan mata uang lainnya. Ini diperlukan karena setiap mata uang mempunyai kandungan logam mulia yang berlainan sehingga mempunyai nilai yang yang berbeda pula. Orang yang mempunyai keahlian khusus ini disebut naqid, sarraf, dan jihbiz.[2]
Kemajuan praktek perbankan pada zaman itu ditandai dengan beredarnya sakk (cek) dengan luas sebagai media pembayaran.
Zaman abbasiyyah selain terkenal dengan kemajuan peradabannya, juga merupakan periode ketika para kepala pemerintahan mulai bergelimang kemewahan. Kenyataan ini akhirnya menjauhkan mereka dari nilai-nilai Islam. Setelah ibnu furat jatuh, beliau di ketahui mempunyai 160.000 dinar yang di depositokan di bankirnya, Hamid ibnu Abbas mempunyai 100.000 dinar, dan Sulaiman ibnu Wahabmempunyai 80.000 dinar.bila uang tersebut di duga uang haram (mal-i-murafiq). Pemerintahan dapat mengambilnya dari bankir yamg besangkutan setiap saat.
Begitulah jadinya bila umat Islam meninggalkan nilai-nilai ajaran Islam. Mereka lebih menyukai kemewahan dunia-meskipun dengan berhutang dan bergantung pada orang Yahudi dan Nasrani-dari pada hidup berkhidmat dengan ajaran Islam. Padahal, Rasulullah s.a.w. telah mengigatkan kita melalui