Jika anda dialihkan ke situs adf.ly maka tunggu 5 detik kemudian klik Lewati / skip ad untuk melanjutkan membaca isi makalah pada blog ini.

Sunday, May 18, 2014

Distorsi Pasar dalam Islam

Links to this post
Distorsi Pasar dalam Islam
Dalam konsep Islam, penentuan harga dilakukan oleh kekuatan pasar, yaitu kekuatan permintaan dan kekuatan penawaran. Pertemuan antara permintaan dan penawaran tersebut harus terjadi ridha sama ridha, tidak ada pihak yang merasa tertipu atau adanya kekeliruan objek transaksi dalam melakukan transaksi barang tertentu (Q) pada tingkat harga tertentu (P). Dengan demikian, Islam menjamin pasar bebas di mana para pembeli dan para penjual bersaing satu sama lain dengan arus informasi yang berjalan lancar dalam kerangka keadilan, yakni tidak ada pihak yang dzalim atau merasa didzalimi. Hal di atas tentunya merupakan situasi ideal, namun pada kenyataannya, situasi ideal tersebut tidak selalu tercapai, karena sering kali terjadi gangguan/intervensi pada mekanisme pasar yang ideal ini. Gangguan terhadap mekanisme pasar ini sering dikenal sebagai distorsi pasar (market distortion). Pada garis besarnya, ada tiga bentuk distorsi pasar sebagai berikut :
1. Distorsi penawaran dan distorsi permintaan
Distorsi penawaran (false supply) lebih dikenal sebagai ikhtikar sedangkan distorsi pada permintaan (false demand) dikenal sebagai bai’ najasy. Transaksi najasy diharamkan karena si penjual menyuruh atau bekerjasama dengan orang lain agar memuji atau menawar barangnya dengan harga tinggi agar orang lain tertarik pula untuk membeli. Si penawar sendiri sebenarnya tidak bermaksud untuk benar-benar membeli barang tersebut. Ia hanya ingin menipu orang lain yang benar-benar ingin membeli. Sebelumnya orang ini telah mengadakan kesepakatan dengan penjual untuk membeli dengan harga tinggi agar ada pembeli yang sesungguhnya dengan harga yang tinggi pula dengan maksud untuk menipu dan mendapatkan keuntungan di atas keuntungan normal. Akibatnya terjadi “permintaan palsu” (false demand) atas produk tersebut.
Sebagai ilustrasi, misalkan ada seorang penjual bernama Johan, ia menjual produk elektronik cina dan ia telah bekerjasama dengan Ryan agar berpura-pura hendak membeli produk yang dijual oleh Johan. Ketika Amir lewat, karena ia melihat Ryan sedang sibuk menawar maka tertariklah ia untuk melihat produk dagangan Johan. Ryan berpura-pura memberitahu Amir bahwa produk-produk ini bagus dan Ryan pura-pura menawar produk-produk tersebut dengan harga tinggi, Amir pun pada akhirnya terbujuk dan membeli produk tersebut dengan harga yang di atas harga yang ditawar oleh Ryan. Ketika setibanya di rumah, ternyata produk tersebut jelek dan Amir merasa tertipu.
Ikhtikar (distorsi penawaran) ini seringkali diterjemahkan sebagai monopoli dan atau penimbunan. Padahal sebenarnya ikhtikar tidak identik dengan monopoli dan atau penimbunan. Dalam Islam, siapapun boleh berbisnis tanpa peduli apakah dia satu-satunya penjual (monopoli) atau ada penjual lain. Menyimpan stok barang untuk keperluan persediaan pun tidak dilarang dalam Islam. Jadi monopoli sah-sah saja. Demikian pula menyimpan persediaan. Yang dilarang adalah ikhtikar, yaitu mengambil keuntungan di atas keuntungan normal dengan cara menjual lebih sedikit barang untuk harga yang lebih tinggi, atau istilah ekonominya disebut monopoly’s rent.
Jadi dalam Islam, monopoli boleh, sedangkan monopoly’s rent tidak boleh. Karena ketika seorang produsen menimbun barang bukan untuk persediaan melainkan hanya untuk permainan

PENGERTIAN INFAQ DAN SHADAQAH

Links to this post
INFAQ DAN SHADAQAH
Oleh: Zainuddin Ali (Guru Besar Sosiologi Hukum Univ. Tadulako)
A. Pengertian Infaq, Shadaqah dan Dasar Hukumnya
a. Pengertian Infaq dan dasar Hukumnya
Di dalam Alquran kata infaq berasal dari kata anfaqa yang berarti mengeluarkan sesuatu (harta) untuk kepentingan sesuatu. Selain itu, ada yang mengatakan bahwa kata infaq yang akar katanya adalah n-f-q, disebut lebih kurang 80 kali dalam berbagai surah dan bentuk derivasinya. Kata infak dimaksud, mempunyai makna yang cukup banyak, yaitu terkadang bermakna zakat, sadaqah, al-imarah (kemakmuran), dan makna yang paling umum adalah pemberian suka rela untuk kebaikan. Menurut terminologi syariat, infaq berarti mengeluarkan sebagian dari harta atau pendapatan/penghasilan untuk suatu kepentingan yang diperintahkan oleh ajaran Islam. Makna yang disebutkan terakhir itu, berarti sumbangan harta untuk kebaikan, selain zakat.10 Pendapat lain mengatakan bahwa infaq adalah membelanjakan harta. Sejalan dengan itu, penjelasan Pasal 13 Undang-undang Nomor 38 Tahun 1999 tentang pengelolaan zakat bahwa infak adalah harta yang dikeluarkan oleh seseorang atau badan di luar zakat, untuk kemaslahatan umum.11
Berdasarkan pengertian infaq tersebut, penulis berpendapat bahwa infak adalah menafkahkan sebagian harta untuk kebaikan, baik dalam bentuk pemberian kepada fakir miskin, anak yatim maupun pemberian untuk kegiatan sosial keagamaan (di jalan yang diridhai oleh Allah).
Kalau hukum zakat mempunyai ketentuan nishab dan haul, maka infaq tidak mengenal nishab dan haul. Infaq dikeluarkan oleh setiap orang yang beriman, baik yang berpenghasilan tinggi maupun rendah, baik ia di saat lapang maupun saat sempit (QS. 3:134). Selain itu, jika zakat harus diberikan pada mustahik tertentu (8 asnaf), maka infaq boleh diberikan kepada siapapun. Misalnya, untuk kedua orang tua, anak-yatim, dan sebagainya (QS. 2:215). Namun dalam konteks peraturan perundang-undang di Indonesia, infak dimaksud diberikan kepada lembaga yang mengelola infak, yaitu Badan Amil Zakat (BAZ) atau Lembaga Amil Zakat (LAZ).
Pengertian infaq yang diuraikan di atas, mempuntai beberapa dasar hukum beberapa ayat di dalam Al-Quran, di antaranya sebagai berikut.

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ
Terjemahnya:
Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya (Q.S. Aali-imran: 92).
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134)
Terjemahnya:
Orang-orang yag menaf¬kah¬kan (harta¬nya), baik diwaktu lapang maupun di waktu sempit, dan orang-orang yang menahan amarah¬nya dan memaafkan (kesalahan) orang, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (Qs. Ali Imran 134).

قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ (39)
Terjemahnya:
Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)". Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya (Q.S.Saba: 39).

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الأحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلاَ يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ (34)
Terjemahnya:
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih (At-Taubah: 34)
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134)
Terjemahnya:
Orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Ali Imran:134)
وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ
Terjemahnya:
Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?" (Q.S. Al-Munafiqun: 10)

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلْ مَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالأقْرَبِينَ وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ (215)
Terjemahnya:
Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: "Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan." Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya (Q.S. Al-Baqarah: 215)
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لاَ بَيْعٌ فِيهِ وَلاَ خُلَّةٌ وَلاَ شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ (254)
Terjemahnya:
Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa`at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim (Q.S. Al-Baqarah: 254).
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ(29)
Terjemahnya:
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi (Q.S. Fatir: 29).
وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلاَ تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ(195)
Terjemahnya:
Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik (Q.S. Aali-imran: 195).

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الألرْضِ وَلاَ تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلاَّّ أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
Terjemahnya:
Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji (Q.S. Al-Baqarah: 267).
مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (261)
Terjemahnya:
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui.
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ لاَ يُتْبِعُونَ مَا أَنْفَقُوا مَنًّا وَلاَ أَذًى لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ (262)
Terjemahnya:
Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan sipenerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (Q.S. Al-Baqarah: 262).
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134)
Terjemahnya:
Orang-orang yag menaf¬kah¬kan (harta¬nya), baik diwaktu lapang maupun di waktu sempit, dan orang-orang yang menahan amarah¬nya dan memaafkan (kesalahan) orang, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (Qs. Ali Imran 134).

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالأَْذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلأَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الأْخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لأَ يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ لأَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ(264)

Terjemahnya:
Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan sipenerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir (Alqur’an Surah 2: 264).
ومَثَلُ الَّذِينََ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ وَتَثْبِيتًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَآتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِنْ لَمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَل
Terjemahnya:
Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuatِ (Alqur’an, Surah 2: 265)
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ
Terjemahnya:
Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya (Alqur’an Surah 3:92)
Firman Allah dalam Al-Qur’an Surah al-Baqarah : 267:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الأ َْرْضِ. . . .
Terjemahnya:
“Hai orang-orang yang beriman nafkahkanlah sebahagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebahagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu ….”23
لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لاَ يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ لاَ يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ(273)
(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلَانِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ(274)
Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
الفرقان
وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا(67)
Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.
فاطر
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلاَنِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ(29)
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,
القصص
أُولَئِكَ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ بِمَا صَبَرُوا وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ(54)
Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang telah Kami rezkikan kepada mereka, mereka nafkahkan.
الإمران
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ(134)
(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
وَمَاذَا عَلَيْهِمْ لَوْ ءَامَنُوا بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقَهُمُ اللَّهُ وَكَانَ اللَّهُ بِهِمْ عَلِيمًا(39)
Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): "Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh."
الآنفال
وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَءَاخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لاَ تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لاَ تُظْلَمُونَ(60)
Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).
سباء
قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ(39)
Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)". Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.
اتوبة
وَمِنَ الأعْرَابِ مَنْ يَتَّخِذُ مَا يُنْفِقُ مَغْرَمًا وَيَتَرَبَّصُ بِكُمُ الدَّوَائِرَ عَلَيْهِمْ دَائِرَةُ السَّوْءِ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ(98)
Di antara orang-orang Arab Badwi itu, ada orang yang memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) sebagai suatu kerugian dan dia menanti-nanti marabahaya menimpamu; merekalah yang akan ditimpa marabahaya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
وَمِنَ الأعْرَابِ مَنْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَيَتَّخِذُ مَا يُنْفِقُ قُرُبَاتٍ عِنْدَ اللَّهِ وَصَلَوَاتِ الرَّسُولِ أَلاَ إِنَّهَا قُرْبَةٌ لَهُمْ سَيُدْخِلُهُمُ اللَّهُ فِي رَحْمَتِهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ(99)
Dan di antara orang-orang Arab Badwi itu, ada orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) itu, sebagai jalan mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh do`a Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat (surga) Nya; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
ابراهم
قُلْ لِعِبَادِيَ الَّذِينَ ءَامَنُوا يُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلاَنِيَةً مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لاَ بَيْعٌ فِيهِ وَلاَ خِلاَلٌ(31)
Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: "Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan.
b. Pengertian Shadaqah dan dasar Hukum yang ada di dalam Alqur’an, diantaranya:
Sedekah (bahasa Indonesia) berasal dari kata shadaqah yang berarti benar. Orang yang suka bersedekah adalah orang yang benar pengakuan imannya. Menurut terminologi hukum Islam pengertian sedekah sama dengan pengertian infaq, termasuk juga hukum dan ketentuan-ketentuannya. Hanya saja, jika infaq berkaitan dengan materi, sedekah memiliki arti lebih luas, menyangkut juga hal yang bersifat non materi. Hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Dzar, Rasulullah menyatakan bahwa jika tidak mampu bersedekah dengan harta, maka membaca tasbih, takbir, tahmid, tahlil, berhubungan suami-istri, atau melakukan kegiatan amar ma’ruf nahi munkar adalah termasuk sedekah.
Kata shadaqah (bahasa Indonesia sedekah) dipergunakan dalam bahasa Al-Quran, tetapi maksud sesungguhnya adalah zakat (QS. 9:60 dan 103). Yang perlu diperhatikan, jika seseorang telah berzakat tetapi masih memiliki kelebihan harta, sangat dianjurkan sekali untuk berinfaq dan bersedekah. Berinfaq adalah ciri utama orang yang bertaqwa (QS. 2:3 dan 3:134), ciri mukmin yang sungguh-sungguh imannya (QS. 8:3-4), ciri mukmin yang mengharapkan keuntungan abadi (QS. 35:29). Berinfaq akan melipatgandakan pahala di sisi Allah SWT (QS. 2:262). Sebaliknya, tidak mau berinfaq sama dengan menjatuhkan diri kepada kebinasaan (QS. 2:195).2
Istilah shadaqah mempunyai pengertian yang berkisar 3 (tiga) makna sebagai berikut.
a) Petama, shadaqah adalah pemberian harta kepada orang-orang fakir, orang yang membutuhkan, ataupun pihak-pihak lain yang berhak menerima shadaqah, tanpa disertai imbalan.3 Shadaqah ini hukumnya adalah sunnah, bukan wajib. Karena itu, untuk membedakan dengan zakat yang hukumnya wajib, para fuqaha menggunakan istilah shadaqah tathawwu’ atau ash shadaqah an nafilah; 4Sedang untuk zakat dapat digunakan kata ash shadaqah al mafrudhah.5 Namun Az Zuhaili mengungkapkan bahwa shadaqah yang berstatus hukum sunnah dimakud, bisa berubah menjadi haram, bila diketahui bahwa penerima shadaqah akan memanfaatkannya pada yang haram. Hal itu, berdasarkan kaidah syara’: “Al wasilatu ilal haram bil hukmy haram” (Segala perantaraan kepada yang haram, hukumnya haram pula). Selain itu, shadaqah yang berstatus hukum sunnah bisa berubah menjadi status hukum menjadi wajib, misalnya untuk menolong orang yang berada dalam keadaan terpaksa yang amat membutuhkan pertolongan, misalnya berupa makanan atau pakaian. Menolong mereka adalah untuk menghilangkan dharar (izalah adh dharar) yang wajib hukumnya. Jika kewajiban ini tak dapat terlaksana kecuali dengan shadaqah, maka shadaqah menjadi wajib hukumnya, sesuai kaidah syara’ : “ Maa laa yatimmul wajibu illa bihi fahuwa wajib” (Segala sesuatu kewajiban yang tidak terlaksana secara sempurna, maka sesuatu itu menjadi wajib pula hukumnya) .6 Namun dalam kebiasaan para fuqaha, yang dapat dipahami melalui kitab-kitab fiqh berbagai madzhab, jika disebut istilah shadaqah secara mutlak, maka yang dimaksudkan adalah shadaqah dalam arti yang pertama ini yang hukumnya sunnah dan bukan zakat.
Kedua, shadaqah adalah identik dengan zakat. Hal dimaksud, merupakan makna kedua dari shadaqah, sebab di dalam dalil-dalil hukum Islam ditemukan lafazh “shadaqah” yang berarti zakat.7 Misalnya firman Allah SWT dalam Alqur’an (QS At Taubah : 60) sebagai berikut.

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَاِبْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ(60)
Terjemahnya:
“Sesungguhnya zakat-zakat itu adalah bagi orang-orang fakir, orang-orang miskin, amil-amil zakat …” (QS At Taubah : 60).

Dalam ayat tersebut, “zakat” diungkapkan dengan lafazh “ash shadaqaat”. Begitu pula sabda Nabi SAW kepada Mu’adz bin Jabal RA ketika dia diutus Nabi ke Yaman yang artinya:
“…beritahukanlah kepada mereka (Ahli Kitab yang telah masuk Islam), bahwa Allah telah mewajibkan zakat atas mereka, yang diambil dari orang kaya di antara mereka, dan diberikan kepada orang fakir di antara mereka…” (HR. Bukhari dan Muslim). Ayat dan hadis dimaksud di atas, kata “zakat” diungkapkan dengan kata “shadaqah”.
Berdasarkan nash-nash ini dan yang semisalnya, shadaqah merupakan kata lain dari zakat. Namun demikian, penggunaan kata shadaqah dalam arti zakat ini tidak bersifat mutlak. Artinya, untuk mengartikan shadaqah sebagai zakat, dibutuhkan qarinah (indikasi) yang menunjukkan bahwa kata shadaqah dalam suatu konteks ayat atau hadis tertentu yang berarti shadaqah yang berhukum wajib, bukan shadaqah tathawwu’ yang berhukum sunnah. Pada ayat ke-60 surat At Taubah di atas, lafazh “ash shadaqaat” diartikan sebagai zakat (yang hukumnya wajib), karena pada ujung ayat terdapat ungkapan “faridhatan minallah” (sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah). Ungkapan ini merupakan qarinah, yang menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan lafazh “ash shadaqaat” dalam ayat tadi, adalah zakat yang wajib, bukan shadaqah yang lain-lain.
Begitu pula pada hadis Mu’adz, kata “shadaqah” diartikan sebagai zakat, karena pada awal hadis terdapat lafazh “iftaradha” (mewajibkan/memfardhukan). Ini merupakan qarinah bahwa yang dimaksud dengan “shadaqah” pada hadis itu adalah zakat, bukan yang lain. Karena itu, kata “shadaqah” tidak dapat diartikan sebagai “zakat”, kecuali bila terdapat qarinah yang menunjukkannya.
c) Ketiga, shadaqah adalah sesuatu yang ma’ruf (benar dalam pandangan syara’). Pengertian ini didasarkan pada hadis shahih riwayat Imam Muslim bahwa Nabi SAW bersabda : “Kullu ma’rufin shadaqah” (Setiap kebajikan, adalah shadaqah). Hal dimaksud, berarti mencegah diri dari perbuatan maksiat adalah shadaqah, memberi nafkah kepada keluarga adalah shadaqah, beramar ma’ruf nahi munkar adalah shadaqah, menumpahkan syahwat kepada isteri adalah shadaqah, dan tersenyum kepada sesama muslim pun adalah juga shadaqah.
Pengertian shadaqah yang disebutkan di atas, adalah segala pemberian yang dengannya kita mengharap pahala dari Allah SWT.8 Pemberian (al ‘athiyah) di sini dapat diartikan secara luas, baik pemberian yang berupa harta maupun pemberian yang berupa suatu sikap atau perbuatan baik. Jika demikian halnya, berarti membayar zakat dan bershadaqah (harta) pun bisa dimasukkan dalam pengertian di atas. Tentu saja, makna yang demikian ini bisa menimbulkan kerancuan dengan arti shadaqah yang pertama atau kedua, dikarenakan maknanya yang amat luas. Karena itu, ketika Imam An Nawawi dalam kitabnya Sahih Muslim bi Syarhi An Nawawi mensyarah hadis di atas (“Kullu ma’rufin shadaqah”) beliau mengisyaratkan bahwa shadaqah di sini memiliki arti majazi (kiasan/metaforis), bukan arti yang hakiki (arti asal/sebenarnya). Menurut beliau, segala perbuatan baik dihitung sebagai shadaqah, karena disamakan dengan shadaqah (berupa harta) dari segi pahalanya (min haitsu tsawab). Misalnya, mencegah diri dari perbuatan dosa disebut shadaqah, karena perbuatan ini berpahala sebagaimana halnya shadaqah. Amar ma’ruf nahi munkar disebut shadaqah, karena aktivitas ini berpahala seperti halnya shadaqah. Demikian seterusnya.9
Berdasarkan pengertian shadaqah pada poin b) maka makna shadaqah pada poin c) juga bersifat tidak mutlak. Maksudnya, jika dalam sebuah ayat atau hadis terdapat kata “shadaqah”, tak otomatis dia bermakna segala sesuatu yang ma’ruf, kecuali jika terdapat qarinah yang menunjukkannya. Sebab sudah menjadi hal yang lazim dan masyhur dalam ilmu ushul fiqih, bahwa suatu lafazh pada awalnya harus diartikan sesuai makna hakikinya. Tidaklah dialihkan maknanya menjadi makna majazi, kecuali jika terdapat qarinah. Sebagaimana diungkapkan oleh An Nabhani dan para ulama lain, terdapat sebuah kaidah ushul menyebutkan : Al Ashlu fil kalaam al haqiqah (Pada asalnya suatu kata harus dirtikan secara hakiki makna aslinya).10
Namun demikian, bisa saja lafazh “shadaqah” dalam satu nash bisa memiliki lebih dari satu makna, tergantung dari qarinah yang menunjukkannya. Maka bisa saja, “shadaqah” dalam satu nash berarti zakat sekaligus berarti shadaqah sunnah. Misalnya firman Allah :
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka…” (At Taubah : 103)
Kata “shadaqah” pada ayat di atas dapat diartikan “zakat”, karena kalimat sesudahnya “kamu membersihkan dan mensucikan mereka” menunjukkan makna bahasa dari zakat yaitu “that-hiir” (mensucikan). Dapat pula diartikan sebagai “shadaqah” (yang sunnah), karena sababun nuzulnya berkaitan dengan harta shadaqah, bukan zakat. Menurut Ibnu Katsir (1989 : 400-401) ayat ini turun sehubungan dengan beberapa orang yang tertinggal dari Perang Tabuk, lalu bertobat seraya berusaha menginfakkan hartanya. Jadi penginfakan harta mereka, lebih bermakna sebagai “penebus” dosa daripada zakat.
Karena itu, Ibnu Katsir berpendapat bahwa kata “shadaqah” dalam ayat di atas bermakna umum, bisa shadaqah wajib (zakat) atau shadaqah sunnah (Ibnu Katsir, 1989 : 400). As Sayyid As Sabiq dalam kitabnya Fiqhus Sunnah Juz I (1992 : 277) juga menyatakan, “shadaqah” dalam ayat di atas dapat bermakna zakat yang wajib, maupun shadaqah tathawwu’.

from : http://fakhumuntadzainuddinali.blogspot.com/2009/05/infaq-dan-shadaqah.html

PERAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MEMBENTUK KELUARGA SAKINAH

Links to this post
PERAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MEMBENTUK KELUARGA SAKINAH
Disampaikan Oleh
Prof. Dr. H. Zainuddin Ali, MA
A. Pendahuluan
Keluarga sakinah (sakinah berarti tenang) merupakan keluarga yang dicita-citakan oleh setiap pasangan suami isteri di negara Republik Indonesia. Keluarga sakinah dimaksud, tidaklah dapat dinilai berdasarkan pengamatan dari luar semata, melainkan harus dilihat juga dari dalam, dan aspek-aspek lainnya. Sebuah keluarga bukanlah dikatakan sakinah karena suami isteri berpendidikan tinggi atau keduanya mempunyai sejumlah harta kekayaan atau anak-anaknya pandai semua.
Bila kita membuka literatur-literatur, baik yang bersumber dari Alqur’an dan ahlhadis maupun yang bersumber dari hasil penalaran ilmuan muslim, maka ditemukan 7 (tujuh) komponen untuk membentuk keluarga sakinah berdasarkan ajaran Islam, yaitu:
1. Dimulai sejak memilih pasangan.
2. Realistis dalam kehidupan berkeluarga
3. Mengetahui dan memahami kejiwaan suami isteri
4. Melaksanakan hak-hak suami isteri
5. Menegakkan hak-hak anak
6. Hubungan baik dengan orang lain
7. Mampu menyelesaikan problema dalam rumah tangga
B. Pembentukan Keluarga Sakinah berdasarkan Ajaran Islam
Komponen-komponen dalam pembentukan keluarga sakinah yang disebutkan di atas, akan diuraikan sebagai berikut.
1. Memilih Pasangan
Hak memilih pasangan bukan semata-mata menjadi hak pria, melainkan hak itu melekat pada pria dan wanita untuk menentukan calon yang akan menjadi pasangan dalam membentuk keluarga yang didasari oleh ikatan perkawinan. Kriteria wanita yang terbaik untuk dipilih adalah berdasarkan kesalehannya atau memiliki keimanan yang baik. Memang cukup sulit untuk mencari orang yang baik secara sempurna, tetapi hal ini bisa dilihat dari kecenderungannya untuk dapat diajak kearah berperilaku yang baik; Sedangkan kriteria laki-laki yang baik untuk dipilih adalah laki-laki yang taqwa dan berbudi pekerti luhur. Perilaku laki-laki yang taqwa adalah kalau ia sedang tidak marah akan menghargai isterinya sedang bila dalam keadaan marah tidak sampai berbuat dzalim terhadap isterinya. Dalam Islam, proses memilih calon suami atau isteri haruslah melalui pihak ketiga atau tidak secara langsung. Didalam ajaran Islam tidak ada istilah pacaran. Di samping itu, juga dianjurkan untuk bermusyawarah dengan keluarga. Jadi tahap proses memilih pasangan ini dapat diringkas sebagai :
- memilih (ihktiyarah),
- musyawarah dengan keluarga (istisyarah), dan
- menentukan pilihan (istikharah).
2. Realistis dalam kehidupan keluarga
Realistis dalam hal ini adalah hal-hal penggunaan biaya keluarga, yaitu sejak mahar hingga biaya keseharian. Dalam kehidupan kesehariannya, selalu menyisihkan terlebih dahulu penghasilannya dalam jumlah tertentu (misal : 2,5 % - 10%) untuk infak atau sedekah. Sisanya itulah untuk keperluan belanjanya. Jadi tidak seluruh hartanya dihabiskan untuk kebutuhan belanja sendiri. Perilaku yang demikian, mengakibatkan pada setiap hari ada malaikat yang berdoa : "Ya Allah berilah ganti kepada orang yang berinfak dan berilah kerusakan bagi orang yang menahan infak"
3. Memahami kejiwaan suami dan/atau isteri.

ABORSI DILIHAT DARI ASPEK HUKUM ISLAM

Links to this post
ABORSI DILIHAT DARI ASPEK HUKUM ISLAM
Oleh : Prof. Dr. H. Zainuddin Ali, MA

A. Pendahuluan
Persoalan aborsi akhir-akhir ini di tengah-tengah masyarakat yang mendiami negara Republik Indonesia muncul pro dan kontra tentang status hukum untuk melakukan aborsi, yaitu pengguguran kandungan (janin) tanpa alasan medis, sebelum nafkhur ruh, sehingga mereka mempertanyakan kembali tentang masalah dimaksud. Lain halnya pengguguran kandungan (janin) sesudah adanya ruh pada embrio manusia yaitu status hukumnya adalah sama dengan melakukan pembunuhan.
B. Aborsi dilihat dari Aspek Hukum Islam.
Hukum Islam dalam konteks Islamic law (Syariat Islam) para ulama sepaham di seluruh dunia bahwa pengguguran kandungan sesudah janin mempunyai ruh maka status hukumnya adalah haram. Lain halnya hukum Islam dalam konteks Islamic jurisprudance (fikih) pengguguran kandungan sebelum adanya ruh akan melahirkan perbedaan pendapat di antara para ulama, yaitu ada yang membolehkan dan ada yang mengharamkan. Perbedaan itu, didasari oleh alasan-alasan. Hal itu, diungkapkan sebagai berikut.
a. Pertama, Boleh (mubah). Secara mutlak (tanpa harus ada alasan medis) menurut ulama Zaidiyah, sekelompok ulama Hanafi, sebagian ulama Syafi’i, serta sejumlah ulama Maliki dan Hambali.
b. Kedua, Boleh (mubah) karena ada alasan medis (‘Uzur) dan makruh jika tanpa ‘uzur menurut ulama Hanafi dan sekelompok ulama Syafi’i
c. Ketiga, haram menurut pandangan mu’tamad (secara umum) ulama Maliki.
Imam Al-Ghazali dari kalangan Mazhab Safi’i mengungkapkan jika sel sperma telah bercampur dengan sel ovum dan siap menerima kehidupan maka merusaknya dipandang sebagai tindak pidana (jinayah); Ini berarti haram untuk melakukannya.
Berdasarkan pendapat dan alasan-alasan yang dikemukakan di atas, maka Majelis Ulama Indonesia menetapkan Keputusan Fatwa dalam Musyawarah Nasional (MUNAS) tentang Aborsi pada tanggal 29 Juli 2000 sebagai berikut.
1. Mengukuhkan Keputusan Munas Ulama Indonesia tanggal 28 Oktober 1983 tentang kesehatan dan pembangunan.
2. Melakukan aborsi sesudah nafkh al-ruh hukumnya adalah haram, keculai jika ada alasan medis seperti untuk menyelamatkan jiwa si ibu.
3. Melakukan aborsi sejak terjadinya pembuahan ovum, walaupun sebelum nafkh al-ruh, hukumnya adalah haram, kecuali ada alasan medis atau alasan lain yang dibenarkan oleh syari’at Islam.
4. Mengharamkan semua pihak untuk melakukan, membantu atau mengizinkan aborsi.
C. Penutup
Demikian pokok-pokok pikiran dari aspek hukum Islam tentang aborsi. Mudah-mudahan penduduk yang mendiami negara republik Indonesia termasuk Sulawesi Tengah dan Kota Palu dapat mengetahui, memahami dan menjadi kesadaran hukumnya.

from : http://fakhumuntadzainuddinali.blogspot.com/2009/05/aborsi-dalam-aspek-hukum-islam.html

ETIKA PERGAULAN DALAM AJARAN ISLAM

Links to this post
ETIKA PERGAULAN DALAM AJARAN ISLAM
Oleh: K.H. S. Saggaf M. Al-Djufrie, MA
A. Pendahuluan
Islam sebagai agama menuntun pemeluknya untuk menjadikan Alqur’an dan Alhadis sebagai pedoman hidupnya. Pedoman hidup dimaksud, menyangkut hubungan manusia dengan Tuhannya, hubungan manusia dengan sesamanya, dan hubungan manusia dengan sesama ciptaan Allah Swt.
B. Etika Pergaulan dalam Ajaran Islam
Etika pergaulan di dalam ajaran Islam, baik yang berhubungan dengan kehidupan sosial maupun yang berhubungan dengan sesama makhluk ciptaan Tuhan akan diuraikan hal-hal tertentu di antaranya:
1. Etika pergaulan bagi wanita
Wanita Islam tidak dibenarkan oleh ajaran Islam untuk bergaul bebas dengan laki-laki yang bukan muhrimnya, baik lelaki muslim maupun lelaki non muslim. Bahkan lebih rawan lagi kalau ia bergaul dengan seorang non muslim yang tidak mengenal etika pergaulan yang sesuai ajaran agama Islam. Pergaulan./persahabatan antara dua jenis kelamin, terutama mereka yang belum menikah, dapat dipastikan akan membawa akibat dan dampak hukum yang negatif. Karena itu Nabi Muhammad Saw bersabda:
لايخلو ن احد كم بامرأ ة الامع ذي محرم (متفق عليه)
Artinya:
Janganlah sekali-kali seorang lelaki berdua-duaan dengan seorang wanita kecuali bersama seorang mahramya (keluarga dekat) HR. Bukhari dan Muslim.
Hadis tersebut merupakan salah satu penjelasan dari Alqur’an mengenai mendekati zina. Mendekati zina dimaksud, berkhalwah itulah antara lain yang dimaksud oleh Alqur’an surah Al-Israa: 32 sebagai berikut.

وَلاَ تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلاً (32)
Artinya:
Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah sesuatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.
2. Laki-laki menyerupai perempuan
Saat ini di Indonesia termasuk Sulawesi Tengah, yaitu banyak laki-laki memakai pakain perempuan, seperti memakai anting-anting dan kalung (rantai), sedang perempuan memakai pakaian laki-laki seperti pakaian celana levis yang modelnya sangat sempit dan pakai baju kemeja atau kaos, yang kemudian baju itu dimasukkan dalam ikat pinggang sebagai layaknya laki-laki. Guntingan rambut juga persis model laki-laki. Perilaku yang demikian merupakan salah satu wujud dampak negatif dari budaya barat yang sedang digandrungi oleh sebagian masyarakat Indonesia, sebagai akibat dan konsekuensi arus global-isasi yang sedang melanda negara Republik Indonesia saat ini. Inkulturasi dan infiltrasi kebudayaan barat dan perembesan nilai-nilai negatif yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur universal yang tidak sesuai dengan budaya bangsa dan kaidah-kaidah Agama akan bermuarah kepada lemahnya ketahanan nasional bangsa Indonesia. Namun sampai sejauh ini masih belum disadari oleh sebagian ummat Islam yang begitu antusias menerima segala budaya asing yang ditiupkan oleh orang Barat dan tidak sesuai dengan budaya (kultur) bangsa dan ajaran Islam. Karena itu, ummat Islam sebaiknya jangan asal ikut-ikutan. Nabi Muhammad Saw pernah bersabda:
مـن تـشـبـه بـقـوم فهـو مـنهـم .
Artinya:
Bahwa barang siapa yang mengikuti dan meniru sesuatu kaum maka ia merupakan golongan dari mereka (kaum itu).
Dalam hal dimaksud, bukan berarti ummat Islam menutup pintu terhadap semua bentuk budaya yang datang dari Barat. Hal-hal yang bermanfaat patut diteladani dan diikuti, seperti kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebagai ummat yang berusaha tegak lurus di jalan Allah Swt dan Sunnah Rasulullah Saw, kita dituntut untuk semakin meningkatkan taqwa dan semakin selektif terhadap semua yang datang dari luar Islam. Hal itu berarti ummat Islam harus mengkaji dan merenungkan mengenai perilaku yang sesuai keyakinannya atau malah bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran agamanya. Berikut ini kami nukilkan beberapa sabda Nabi Muhammad Saw yang berkaitan dengan pertanyaan di atas yang dapat dijadikan pedoman oleh ummat Islam.
عـن ا بـن عـباس رضي الله عـنهـما قال: لـعـن رسو ل الله (ص) الـمخـنـثـيـن مـن الـرجـال والـمـتـر جـلا ت مـن الـنـسـاء .وفى روا يـة
Artinya:
Ibnu Abbas r.a. berkata: Rasulullah Saw melaknat orang laki-laki yang berlagak sebagai perempuan, dan perempuan yang berlagak meniru laki-laki.
Dalam riwayat lain:
لـعـن رسـول الله (ص) الـمـتـسـبـهـيـن مـنالـرجـا ل بالـنـساء والمـتـسـبـهـا ت من الـنسـاء با لـرجـا ل (رواه الـبخـاري)
Artinya:
Rasulullah Saw melaknat orang laki-laki yang meniru perempuan dan orang perempuan yang meniru laki-laki . (H.R. Bukhari).
Para ulama menjelaskan bahwa tidak patut dilaknat (dikutuk) kecuali orang-orang yang melakukan dosa besar. Oleh karena itu perbuatan tersebut dikategorikan sebagai dosa besar (kabaair). Karena itu, bila diteliti dan dicermati, maka hadits tersebut pada perinsipnya menjaga sifat kelaki-laki