Jika anda dialihkan ke situs adf.ly maka tunggu 5 detik kemudian klik Lewati / skip ad untuk melanjutkan membaca isi makalah pada blog ini.

Friday, April 26, 2013

Pemikiran Theologhi/Teologi Al-Asy'ari

Links to this post

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Dalam sejarah perkembangan pemikiran Islam, umumnya dikenal adanya dua corak pemikiran kalam, yakni pemikiran kalam yang bercorak rasional serta pemikiran kalam yang bercorak tradisional. Pemikiran  kalam yang bercorak rasional adalah pemikiran kalam yang memberikan kebebasan berbuat dan berkehendak kepada manusia, daya yang kuat kepada akal, kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan yang terbatas, tidak terikat pada makna harfiah, dan banyak memakai  arti majazi dalam memberikan interpretasi ayat-ayat Al-Qur’an. Pemikiran ini akan melahirkan paham rasional tentang ajaran Islam serta menumbuhkan sikap hidup yang dinamis dalam diri manusia. Paham ini terdapat dalam aliran Mu’tazilah dan Maturidiyyah Samarkand.
Sebaliknya, pemikiran kalam yang bercorak tradisional adalah pemikiran kalam yang tidak memberikan kebebasan berkehendak dan berbuat kepada manusia, daya yang kecil bagi akal, kekuasaan kehendak Tuhan yang berlaku semutlak-mutlaknya, serta terikat pada makna harfiah dalam memberikan interpretasi ayat-ayat Al-Qur’an. Pemikiran kalam ini akan melahirkan paham tradisional tentang ajaran Islam serta akan menumbuhsuburkan sikap hidup fatalistik  dalam diri manusia. Paham ini terdapat dalam aliran Asy’ariyyah dan Maturidiyyah Bukhara.
Kalau kaum Mu’tazilah banyak percaya pada kekuatan akal manusia, kaum Asy’ariah banyak bergantung pada wahyu. Sikap yang dipakai kaum Mu’tazilah ialah mempergunakan akal dan kemudian memberikan interpretasi pada teks atau nas wahyu sesuai dengan pendapat akal. Kaum Asy’ariah sebaliknya, terlebih dahulu kepada teks wahyu dan kemudian membawa argumen-argumen rasional untuk teks wahyu itu. Kalau kaum Mu’tazilah banyak memakai ta’wil atau interpretasi dalam memahami teks wahyu, kaum Asy’ariah banyak berpegang pada arti lafzi atau letterlek dari teks wahyu. Dengan kata lain  Mu’tazilah membaca yang tersurat dalam teks, kaum Asy’ariah membaca yang tersurat.
Asy’ariah merupakan aliran yang hidup hingga sekarang, berumur hampir sepuluh abad. Aliran ini tumbuh pada tahun-tahun pertama abad ke-4 H, hingga sekarang masih ada, walaupun harus menghadapi tekanan kira-kira 1 ½ abad. Satu saat bertarung melawan kaum rasionalis, yang diwakili khususnya oleh Mu’tazilah, tetapi kadang juga melawan naqliyyin (tekstualis) yang diwakili oleh Salaf ekstrim dari kalangan Hanabilah dan Karamiah. Baru kemudian ajaran-ajaran aliran ini bisa mendominasi dan menjadi mazhab resmi Negara di dunia Sunni yang dalam rangka itu ia ditopang oleh kondisi social-politik.
Pada akhir abad ke-3 H muncul dua tokoh yang menonjol, yaitu Abu al-Hasan al-Asy’ari di Bashrah dan Abu Manshur al-Maturidi di Samarkand. Mereka bersatu dalam melakukan bantahan  terhadap Mu’tazilah, meskipun sedikit banyak mereka mempunyai perbedaan.
Al-Asy’ari dilahirkan di Bashrah pada tahun 260 H dan wafat pada tahun ± 330 H. Ia mempelajari ilmu kalam dari seorang tokoh Mu’tazilah Abu ‘Ali al-Jubba’I. Karena kemahirannya, ia selalu mewakili gurunya dalam berdiskusi. Meskipun begitu, pada perkembangan selanjutnya ia menjauhkan diri dari pemikiran Mu’tazilah. Selanjutnya ia condong kepada pemikiran para fuqaha dan ahli hadis, padahal ia sama sekali tidak pernah mengikuti majelis mereka dan tidak pernah mempelajari ‘aqidah berdasarkan metode mereka.
Berdasarkan uraian di atas, penulis menyimpulkan bahwa dalam perkembangan pemikiran Islam ada dua aliran yang mempunyai corak pemikiran yang kontradiktif. Aliran Muktazilah mempunyai pemikiran bercorak rasional atau pemikiran yang bertumpu pada logika, sedangkan aliran  al-Asy’ariah mempunyai pemikiran bercorak tradisional, dan aliran ini muncul sebagai sanggahan atas pemikiran Mu’tazilah.  Abu al-Hasan al-Asy’ari sebagai penggagas dan pendiri aliran al-Asy’ari ini pada mulanya adalah pengikut setia ajaran Mu’tazilah, namun karena disebabkan beberapa hal yang bertentangan dengan hati nurani, pemikirannya dan kondisi social masyarakat (ia merasa perlu meninggalkan ajaran itu) di zaman itu yang menyebabkan ia berpaling meninggalkan ajaran Mu’tazilah, dan bahkan memunculkan aliran teologi baru sebagai reaksi perlawanan terhadap ajaran Mu’tazilah, ini akan dijelaskan pada pembahasan selanjutnya.
1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka dalam pembahasan makalah ini, penulis merumuskan beberapa permasalahan,  yaitu :
1.      Sejarah timbulnya aliran Al-Asy’ariah
2.      Abu Hasan al-Asy’ari (Biografi dan Karya-karyanya) dan tokoh lain.
3.      Pokok-pokok ajarannya.

1.3  Tujuan Pembahasan
1.      Memahami sejarah lahirnya aliran Al-Asy’ariah
2.      Mengetahui biografi dan karya-karya pendiri aliran Al-Asy’ariyah yakni Abu Hasan al-Asy’ari dan tokoh-tokoh lain.
3.      Mengetahui dan memahami pokok-pokok ajaran Al-Asy’ariyah.







BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Sejarah Timbulnya Aliran Al-Asy’ariah.
Ada beberapa kemungkinan alasan yang menyebabkan al-Asy’ari meninggalkan Mu’tazilah sekaligus merupakan penyebab timbulnya aliran al-Asy’ariah, berikut ini dipaparkan :
Al-Asy’ari sungguhpun telah puluhan tahun menganut paham Mu’tazilah, akhirnya meninggalkan ajaran Mu’tazilah. Sebab yang bisaa disebut, yang berasal dari al-Subki dan Ibn Asakir, ialah bahwa pada suatu malam al-Asy’ari bermimpi; dalam mimpi itu Nabi Muhammad SAW, mengatakan kepadanya bahwa mazhab Ahli Hadislah yang benar, dan mazhab Mu’tazilah salah.
Cerita yang paling umum disebut sebagai penyebab keluarnya   al-Asy’ari dari Mu’tazilah ialah

Makalah Hadits Maudhu

Links to this post


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Meski begitu besarnya fungsi dan kedudukan Hadits sebagai sumber ajaran Islam setelah Alquran al-Karim, namun seperti dicatat dalam sejarah, ternyata penulisan dan kodifikasi Hadits secara resmi baru dimulai pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz. Begitu lamanya rentang antara waktu sejak meninggalnya Rasulullah saw. hingga waktu kodifikasi Hadits.
Dalam perjalanan sejarah Hadits, banyak muncul Hadits-Hadits palsu yang diterbitkan oleh beberapa golongan untuk tujuan tertentu baik politik seperti yang dilakukan oleh kaum Syi’ah, atau ekonomi seperti pemalsuan hadits yang menyatakan bahwa melombakan merpati adalah suatu hal yang disuruh Rasul, fanatisme terhadap sebuah ajaran atau golongan seperti hadits yang mengatakan bahwa Rasul telah memberikan kepemimpinan kepada Ali. Makalah ini akan menguraikan tentang Hadits palsu dan beberapa kajian yang berkaitan dengannya.

1.2 Tujuan Penulisan
v  Untuk memenuhi tugas mata kuliah ulumul Hadits
v  Agar mahasiswa mengetahui lebih rinci tentang pengertian hadits maudhu’
v  Agar mahasiswa dapat membedakan yang termasuk hadits maudhu’
v  Agar mahasiswa mengtahui sejarah perkembangan hadits maudhu’
1.3 Metode Penulisan
v  Melakukan study pustaka
v  Mencari data-data melalui internet.


BAB 11
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Hadis Maudhu

Dari segi bahasa, maudhu’ berarti bentuk isim maf’ul dari kata kerja wadha’a yang berarti mengada-ada atau membuat-buat. Bila dikaitkan dengan Hadits maka berarti mengada-adakan Hadits atau memalsukan Hadits. Menurut ilmu Hadits, Hadits maudhu’ berarti Hadits yang disandarkan kepada Rasulullah saw. yang Rasulullah saw. sendiri tidak pernah mengerjakan, berbuat dan memutuskannya.

Dalam sumber lain dikatakan bahwa Hadits maudhu’ berarti kebohongan yang dibuat dan diciptakan serta disandarkan kepada Rasulullah saw.Dari beberapa defenisi di atas dapat terlihat adanya beberapa kesamaan unsur tentang tanda adanya pemalsuan Hadits, yaitu:

1. adanya unsur kesengajaan.
2. ada unsur kebohongan atau ketidaksesuaian dengan fakta.
3. ada penisbahan kepada Rasulullah saw. berupa ucapan perbuatan atau pengakuan.
2.2  Sejarah  Perkembangan Hadis Maudhu’
Ada perbedaan pendapat tentang kapan munculnya pemalsuan Hadis. Di antara perbedaan itu ada yang berpendapat bahwa pada zaman Rasulullah saw belum terjadi pemalsuan Hadis. Pendapat ini diutarakan oleh Abdul Wahhab, namun meski demikian, ia juga tidak menolak adanya kemungkinan unsur pemalsuan terhadap Rasulullah saw. dan ajaran Islam yang dilatari berbagai faktor.
Beberapa faktor yang turut melatari hal tersebut, menurut Abdul Wahhab, adalah adanya anggapan bahwa Rasulullah saw. tidak melarang bahkan memberi kesempatan bila dipandang dapat memberikan manfaat positif bagi kemajuan ummat Islam. Pemalsuan tersebut bisa berupa nasehat agama.
Faktor yang lain adalah adanya kecerobohan dalam meriwayatkan Hadis ol

Makalah Ayat pertama dan terakhir diturunkan (fawatih al-suwar)

Links to this post


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang Masalah
            Banyak pendapat mengenai ayat yang pertama turun dan ayat terakhir turun. Dari berbagai pendapat tersebut, tentunya masing-masing memiliki alasan yang bisa dipertanggunjawabkan. Ada penjelasan bahwa ayat yang pertama turun adalah Surat Al-Alaq.
            Ungkapan bahwa Rasulullah SAW menerima Al-Qur`an yang diturunkan kepadanya itu mengesankan suatu kekuatan yang dipegang seseorang dalam menggambarkan segala yang turun dari tempat yang lebih tinggi. Hal itu karena tingginya kedudukan Al-Qur`an dan agungnya ajaran-ajarannya yang dapat mengubah perjalanan hidup manusia, menghubungkan langit dan bumi, dan dunia dengan akhirat. Pengetahuan mengenai sejarah perundang-undangan Islam dari sumber pertama dan pokok yaitu Al-Qur`an akan memberikan kepada kita gambaran mengenai pentahapan hukum dan penyesuaiannya dengan keadaan tempat hukum itu diturunkan, tanpa adanya kontradiksi antara yang lalu dengan yang akan datang. Hal demikian memerlukan pembahasan mengenai Ayat apa yang pertama kali turun dan Ayat apa yang terakhir kali turun.
            Mengenai ayat yang pertama dan terakhir turun ini turut menjadi pembahasan dalam ‘Ulumul Qur’an. Ruang likngkup pembahasan Al-Qur’an sangat banyak jumlahnya. Bahkan menurut Abu Bakar Al-Arabi Ilmu-Ilmu al-Qur’aan itu mencapai 77.450 jenis berdasarkan sistematika yang telah dirumuskannya. Jika berdasarkan pada pendapat tersebut, maka ruang lingkup pembahasan Al-Qur’an tidak dapat dihitung atau jumlahnya (tak terhingga lagi). Dengan demikian, permasalahan ini penting untuk ditelaah mengingat masih banyaknya pendapat tentang ayat apa sebenarnya yang pertama turun dan yang terakhir turun?


BAB II
PEMBAHASAN
            Ketinggian kedudukan Al Quran dan keagungan ajaran-ajarannya akan dapat merubah kehidupan manusia, menghubungkan langit dengan bumi, dan dunia dengan akhirat. Pengetahuan mengenai sejarah perundang-undangan Islam dari sumber utamanya yaitu Al-Qur’an akan menggambarkan kepada kita mengenai peringkatan hukum dan penyesuaiannya dengan keadaan tempat hukum itu diturunkan yang memerlukan   pembahasan mengenai apa yang pertama dan terakhir diturunkan.
A. Ayat yang Pertama Diturunkan
            Terdapat empat pendapat mengenai apakah yang mula-mula diturunkan mengenai Al-Qur ,an :
a. Jumhur (Pendapat yang paling rajih atau sahih) ‘Ulama yaitu yang pertama diturunkan ialah lima ayat pertama  surah al-‘Alaq berdasarkan riwayat ‘Aisyah yang dicatat oleh Imam Bukhari, Muslim dan al-Hakim dalam kitab-kitab hadis  mereka. Aisyah r.a. menyatakan: “Sesungguhnya p

Makalah IJTIHAD

Links to this post


BAB I
PENDAHULUAN
1.1     Latar Belakang
Ijtihad merupakan upaya untuk menggali suatu hukum yang sudah ada pada zaman Rasulullah SAW. Hingga dalam perkembangannya, ijtihad dilakukan oleh para sahabat, tabi’in serta masa-masa selanjutnya hingga sekarang ini. Meskipun pada periode tertentu apa yang kita kenal dengan masa taqlid, ijtihad tidak diperbolehkan, tetapi pada masa periode tertentu pula (kebangkitan atau pembaharuan), ijtihad mulai dibuka kembali. Karena tidak bisa dipungkiri, ijtihad adalah suatu keharusan, untuk menanggapi tantangan kehidupan yang semakin kompleks problematikanya.
Sekarang, banyak ditemui perbedaan-perbedaan madzab dalam hukum Islam yang itu disebabkan dari ijtihad. Misalnya bisa dipetakan Islam kontemporer seperti Islam liberal, fundamental, ekstrimis, moderat, dan lain sebagainya. Semuanya itu tidak lepas dari hasil ijtihad dan sudah tentu masing-masing mujtahid berupaya untuk menemukan hukum yang terbaik. Justru dengan ijtihad, Islam menjadi luwes, dinamis, fleksibel, cocok dalam segala lapis waktu, tempat dan kondisi. Dengan ijtihad pula, syariat Islam menjadi “tidak bisu” dalam menghadapi problematika kehidupan yang semakin kompleks.
Sesungguhnya ijtihad adalah suatu cara untuk mengetahui hukum sesuatu melalui dalil-dalil agama yaitu Al-Qur'an dan Al-hadits dengan jalan istimbat. Adapun mujtahid itu ialah ahli fiqih yang menghabiskan atau mengerahkan seluruh kesanggupannya untuk memperoleh persangkaan kuat terhadap sesuatu hukum agama. Oleh karena itu kita harus berterima kasih kepada para mujtahid yng telah mengorbankan waktu,tenaga, dan pikiran untuk menggali hukum tentang masalah-masalah yang dihadapi oleh umat Islam baik yang sudah lama terjadi di zaman Rosullulloh maupun yang baru terjadi.

 
1.2     Rumusan Masalah
Dalam penuluisan makalah ini, penulis merumuskan beberapa masalah diantaranya sebagai berikut:
1.       Pengertian Ijtihad
2.       Dasar-dasar Ijtihad
3.       Kedudukan hukum dari hasil Ijtihad
4.       Macam-macam Ijtihad
5.       Ijtihad dalam Tinjauan Sejarah
6.       Hukum Ijtihad
7.       Syarat-syarat Mujtahid
8.       Tingkatan Mujtahid
9.       Wilayah Ijtihad

1.3     Tujuan Penulisan
1.       Untuk memenuhi tugas mata kuliah Ushul Fiqih
2.       Menambah wawasan penulis dan pembacanya mengenai Ijtihad





BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Pengertian Ijtihad
Ijtihad berakar dari kata “jahda” secara etimologi berarti : mencurahkan segala kemampuan (berpikir) untuk mendapatkan sesuatu (yang sulit), dan dalam prakteknya digunakan untuk sesuatu yang sulit dan memayahkan.
Namun dalam al-Qur’an kata “Jahda” sebagaimana dalam Q.S 16:38, 24:53, 35:42, semuanya mengandung arti “Badzu al-Wus’i wa al-Thoqoti” (pengerahan segala kesanggupan dan kekuatan) atau juga berarti “al-Mubalaghah fi al-yamin” (berlebih lebihan dalam sumpah). Dengan demikian arti ijtihad adalah pengerahan segala kesanggupan dan  kekuatan untuk memperoleh apa yang dituju sampai batas puncaknya.
Ibrahim Husein mengidentifikasikan makna ijtihad dengan istinbath. Istinbath barasal dari kata nabath (air yang mula-mula memancar  dari sumber yang digali). Oleh karena itu menurut bahasa arti istinbath sebagai muradif dari ijtihad yaitu “mengeluarkan sesuatu dari persembunyian”.[1][1]
Menurut mayoritas ulama Ushul Fiqh ijtihad adalah : pencurahan segenap kesanggupan (secara maksimal) seorang ahli fiqh untuk mendapatkan pengertian tingkat dhanni terhadap hukum syari’at.[2][2]
Dari definisi diatas dapat ditarik kesimpulan mengenai pelaku, objek dan target capaian ijtihad adalah :
1.      Pelaku ijtihad adalah seorang ahli fiqh, bukan yang lain.
2.      Yang ingin dicapai oleh ijtihad adalah hukum syar’i bidang amali (furu’iyah) yaitu hukum yang berhubungan dengan tingkah laku orang mukallaf.
3.      Hukum syar’i yang dihasilkan oleh suatu ijtihad statusnya adalah dhanni.
Status dhanni pada hukum hasil ijtihad berarti kebenarannya tidak b

Monday, April 1, 2013

Logo STAI Binamadani Tangerang

Links to this post


Logo STAI Binamadani mugnisulaeman.blogspot.com
Logo STAI Binamadani


Logo STAI Binamadani mugnisulaeman.blogspot.com
STAI Binamadani Tangerang




mugnisulaeman.blogspot.com
MES STAI Binamadani 2012 - 2013