Jika anda dialihkan ke situs adf.ly maka tunggu 5 detik kemudian klik Lewati / skip ad untuk melanjutkan membaca isi makalah pada blog ini.

Wednesday, January 2, 2013

FILSAFAT PADA ZAMAN YUNANI KLASIK


BAB II
PENDAHULUAN

  1. Filsafat yunani klasik
Filsafat klasik bersifat kosmensentris, filsafat abad pertengahan bersifat teosentris sedangkan filsafat modern bersifat antroposentris, dizaman yunani klasik, pusat perhatian filsafat adalah pertanyaan apa yang merupakan unsur pertama dari kosmos. Pada abad pertengahan Allah diakui sebagai pencipta alam semesta. Sedang pada zaman modern yang menjadi pergulatan filosof adalah manusia sendiri.
a. Renaissance
Kata ini berasal dari perancis dan berarti kelahiran kembali, kembali maksudnya usaha untuk menghidupkan kembali kebudayaaan yunani dan romawi klasik dalam satra lahirnya humanisme yang juga mencari inspirasinya pada sastra yunani dan romawi. Renaissance ditandai oleh kelahiran kembali diberbagai ilmu sastra, kesenian filsafat dan ilmu pengetahuan. ilmu pengetahuan berkembang pesat berdasarkan metode eksperimental.
Pada periode yunani klasik perkembangan filsafat menunjukan[1] kepastian, yaitu ditandainya semakin besar minat orang terhadap filsafat. Zaman klasik bermula dengan Socrates, tetapi Socrates belum sampai kepada sesuatu sistim filosofi, yang  memberikan nama klasik kepada filosofi itu. Sistem ajaran filosofi klasik baru dibangun oleh plato dan aristoteles, berdasaran ajaran Socrates tentang pengetahuan dan etik beserta folosofi alam yang berkembang sebelum Socrates. Plato mencapai titik persatuan dalam Filosofi grik yang selama itu menyatakan perbedaan pandangan. untuk pertama kali dalam sejarah dunia barat, suatu sistem pandangan yang menyuluhi keseluruhannya dari satu pokok. Aristoteles meneruskan pokok pengertian Plato dan membangun suatu system  Filosofi yang di dalamnya terdapat tempat tersendiri bagi berbagai ilmu spesial. Buah pikiran dalam sistem pengetahuan Plato dan Aristoteles menguasai alam pikiran orang barat sampai kira-kira dua ribu tahun lamanya. Itulah yang membarikan nama klasik kepada Filosofi mereka.

B.  Zaman keemasan filsafat yunani kuno
Pada Abad Anthena dipimpin oleh perikles kegiatan politik dan filsafat dapat berkembang denga
n baik. Ada segolongan kaum yang pandai berpidato (rethorika) dinamakan kaum sofis. Kegiatan mereka adalah mengajarkan pengetahuan pada kaum muda. Yang menjadikan objek penyelidikannya bukan lagi alam tetapi manusia, sebagiaman yang dikatakan oleh prothagoras, manusia adalah ukuran untuk segala-galanya. Hal ini ini ditentang oleh Socrates dengan mengatakan bahwa yang benar dan yang baik harus dipandang sebagai nilai – nilai objektif  yang dijunjung tinggi oleh semua orang, akibat ucapan tersebut socrates dihukum mati
Hasil pemikiran Socrates dapat diketemukan pada muridnya plato.dalam filsafatnya plato mengatakan ‘’realitas seluruhnya terbagi atas dua dunia yang dunia yang pertama adalah dunia jasmani dan yang kedua dunia ide’’ pendapat tersebut dikritik oleh Aristoteles dengan mengatakan bahwa yang ada itu adalah manusia – manusia yang kongkrit ‘’ide manusia’’ tidak terdapat dalam kenyataan. Aristoteles adalah filosof realis dan sumbangannya kepada perkembangan ilmu pengetahuan adalah abstraksi yakni aktivitas rasional dimana seseorang memperoleh pengetahuan. Menurut Aristoteles ada tiga macam abstraksi.yakni :
a.       abstraksi fisis
b.      abstraksi metematis dan
c.       abstraki metafisis
Abstraksi yang ingin menangkap pengertian dengan membuang unsur – unsur individual untuk mencapai kualitas adalah abstraksi fisis. Sedang abstraksi dimana  objek subjek menangkap unsur kuantitatif dengan menyingkirkan unsur kualitatif  disebut abstraksi matematis. Abstraksi dimana seseorang menangkap unsur – unsur hakiki dengan mengesampingkan unsur-unsur lain disebut abstraksi metafisis. Teori Aristoteles yang terkenal adalah tentang materi dan bentuk keduanya ini merupakan prinsip – prinsip metafisis, materi adalah prinsip yang tidak ditentukan sedangkan bentuk adalah prinsip yang menentukan . teori ini terkenal dengan sebutan Hylemorfisme.

C. Etik Sokrates, Plato dan Aristoteles
Budi ialah tahu, kata Sokrates inilah intisari daripada Etikanya. Orang yang berpengetahuan dengan sendirinya berbudi baik. Paham etikanya itulah kelanjutan daripada metode Sokrates. Ajaran Etik Sokrates intelektual sifatnya, selain dari itu juga rasional. Menurut Sokrates, Manusia itu pada dasarnya baik. Seperti dengan selaga barang yang ada itu ada tujuannya, begitu juga hidup Manusia. Keadaan dan tujuan Manusia ialah kebaikan sifatnya dan kebaikan budinya. Dari pandangan Etik yang rasioal itu Sokrates sampai kepada sikap hidup, yang penuh rasa keagamaan. Menurut keyakinannya, menderita kezaliman lebih baik dari berbuat zalim. Dalam segi pandangan Sokrates yang berisi keagamaan, terdapat pengaruh paham rasionalisme. Semuanya itu menunjukkan kebulatan ajarannya, yang menjadikan ia sekarang Filosof yang utama seluruh masa. Seperti juga Sokrates etika Plato bersifat intelektual dan rasional. Dasar ajarannya ialah mencapai budi baik. Pendapat Plato seterusnya tentang etik bersendi pada ajarannya tentang idea. Menurut Plato, ada dua macam budi :
1. Budi Filosofi yang timbul dari pengetahuan dengan pengertian.
2. Budi yang biasa terbawa oleh kebiasaan orang banyak. Sikap hidup yang di pakai tidak terbit dari keyakinan, melainkan disesuaikan kepada moral orang banyak.
Ada dua jalan yang dapat ditempuh untuk melaksanakan dasar etik yaitu:
1. melarikan diri dalampikiran dari dunia yang lahir dan hidup sematamata dalam dunia idea.
2. mengusahakan berlakunya idea itu dalam dunia yang lahir ini.
Kedua-dua jalan itu di empuh oleh Plato. Tujuh etik Plato bersatu kembali pada bidang Agma, yang menekankan bahwa budi adalah tujuan untuk melaksanakan idea keadilan dalam penghidupan seseorang dalam Negara sebagai badan kolektif. Etik Aristoteles pada dasarnya serupa dengan etik Sokrates dan Plato. Tujuannya mencapai Eudaemunic, kebahagiaan sebagai “Barang yang tertinggi” dalam penghidupan. Tetapi ia memahamkannya secara realis dan sederhana. Ia tidak bertanya tentang budi dan berlakunya seperti yang di kemukakan Sokrates. Ia tidak pulang menuju pengetahuan tentang idea yang di tegaskan oleh Plato. Ia menuju kepada kebaikan yang tercapai oleh Manusia yang sesuai dengan jenisnya laki-laki atau perempuan, derajatnya, kedudukannya atau pekerjaannya. Tugas daripda etik ialah mendidik kemauan manusia untuk memiliki sikap yang pantas dalam segala perbuatan. Budipikiran, seperti kebijaksanaan, kecerdasan dan pendapat yang sehat lebih diutamakan oleh Aristoteles dari budi perengai, seperti keberanian, kesederhanaan dan lain-lainnya. Keadilan dan persahabatan, menurut Aristoteles adalah Budi yang menjadi dasar hidup bersama dalam keluarga dan Negara.

D. Masa Helinistis dan Romawi
Pada zaman Alexander Agung telah berkembang sebuah kebudayaan Helinistis, arena kebudayaan yunani tidak terbatas lagi pada kota-kota yunani saja, tetapi juga menyangkup juga seluruh wilayah yang ditaklukan oleh Alexander Agung, dalam bidang filsafat Anthena merupakan suatu pusat yang penting tetapi juga berkembang pula pusat – pusat intelektual lain, Terutama kota Alexandria. Jika akhirnya ekspansi  romawi meluas sampai wilayah yunani, itu berarti tidak kesudahan kebudayaan dan filsafat yunani, karena kekaisaran romawi pintu dibuka lebar untuk menerima warisan cultural yunani.
Dalam bidang filsafat tetap berkembang, namun pada saat itu tidak ada filsuf yang besar kecuali plotinus.
Pada masa ini muncul beberapa aliran :
a.       stoisisme
Menurut paham ini jagat raya ditentukan oleh kuasa – kuasa yang disebut logos. Oleh karena itu segala kejadian berlangsung menurut ketetapan yang tidak dapat dihindari.
b.      Epikurisme
Segala-galanya terdiri atas atom – atom yang senangtiasa bergerak, manusia akan bahagia jika mau mengakui susunan dunia ini dan tidak boleh takut pada dewa – dewa – dewa.


c.       skeptifisme
mereka berfikir bahwa bidang teoretis manusia tidak sanggup mencapai kebenaran. Sikap mereka adalah kesangsian.
d.      Eklektisisme
suatu kecenderungan umum yang mengambil beberapa unsur, filsafat dari aliran lain tampa berhasil mencapai suatu pemikiran yang sungguh – sungguh.
e.       neo platonisme
paham yang ingin menghidupkan kembali filsafat plato tokohnya adalah platinus seluruh filsafatnya berkisar pada ALLAH sebagai yang satu. Segala sesuatu berasal dari ‘’yang satu’’dan ingin kembali kepadanya.

[1] Drs. Surajiyo,Filasafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia,PT Bumi Aksara,Jakarta,2008 hlm82




BAB III
PENUTUP
Daftar Pustaka
  1. Achmadi Asmoro, Filsafat Umum ,Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008.
  2. Drs. Surajiyo,Filasafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia,PT Bumi Aksara,Jakarta,2008


from : http://zamroniye.wordpress.com/

No comments:

Post a Comment